dekat tak selamanya baik
Anehnya, semakin dekat dengan sesuatu, kita semakin buta akan kebaikannya.
Semakin dekat dengan layar TV, mata bisa rusak katanya.
Semakin dekat dengan kipas angin, bisa masuk angin katanya.
Semakin dekat dengan hair dryer, bisa merusak rambut katanya.
Anehnya lagi, itu betul betul nyata.
Semakin dekat dengan kipas angin, bisa masuk angin katanya.
Semakin dekat dengan hair dryer, bisa merusak rambut katanya.
Anehnya lagi, itu betul betul nyata.
Semakin dekat dengan seseorang kita akan lebih cenderung melihat kurangnya. Kemudian menjadi lupa apa alasan awal ketika memutuskan dekat dan merasa semua tidak sepadan seperti yang dibayangkan pada mulanya.
Padahal di sisi lain;
Yang jauh dari layar TV merasa posisinya kurang strategis untuk menonton.
Yang jauh dari kipas angin merasa tubuhnya kurang mendapat hembusan angin.
Yang jauh dari hairdryer merasa rambutnya lebih lama kering.
Yang jauh dari layar TV merasa posisinya kurang strategis untuk menonton.
Yang jauh dari kipas angin merasa tubuhnya kurang mendapat hembusan angin.
Yang jauh dari hairdryer merasa rambutnya lebih lama kering.
Ya, tidak jauh berbeda,
Yang melihat dari kejauhan menganggap hubungan mereka sangat hangat, idaman, dan patut diperjuangkan dengan segala kelebihan masing-masing pasangannya.
Itulah guna memahami perspektif.
Sayangnya banyak orang hanya berhenti di titik memahami. Karena untuk menerapkannya, butuh kesadaran, pengertian, dan rasa syukur di atas rata-rata.
Lagipula, kita semua pernah melakukannya, bukan?
Setiap manusia pernah lupa kebaikan diri sendiri karena faktanya memang diri selalu dekat.
Bagaimana bisa kita melihat kebaikan-kebaikan lain jika selalu buta akan kebaikan diri?
Kebaikan diri yang selalu lebih dekat, bahkan sangat lekat.